BIJAKSANA
Siapakah yang tidak suka terhadap orang yang bijaksana? Kata “bijaksana”, atau “hikmat” dalam bahasa Yunani adalah “
Orang tua yang bijaksana, tidak akan memberi nama kepada anaknya secara sembarangan. Itulah sebabnya, mereka bergumul untuk memberi nama yang indah bagi anaknya. Sebagai hasilnya, cukup banyak orang yang memberi nama Sophia, Sophian, atau yang mirip dengan ini. Ini memberi petunjuk bahwa orang tua menghendaki sifat atau karakter bijaksana dalam diri anak, yang sangat dikasihinya tersebut. Singkatnya, semua orang mencintai kebijaksanaan. Jika ada yang tidak menyukainya, barangkali, itulah yang disebut dengan orang bebal. Karena itu, Firman Tuhan dengan jelas dan tegas memerintahkan: “Janganlah seperti orang bebal, tetapi hiduplah bijaksana.” (Efesus 5:15)
Siapakah orang yang bijaksana? Alkitab menegaskan bahwa orang yang bijaksana adalah orang yang “mempergunakan waktu yang ada.” (Ef. 5:16).
Kata yang digunakan untuk “waktu” dalam bahasa Yunani adalah khronos dan kairos. Kata pertama, berarti waktu secara umum, kata kedua, berarti waktu secara spesifik (kesempatan). Menarik sekali mengamati kenyataan ini: ketika rasul Paulus memerintahkan jemaat untuk menyikapi waktu dengan bijaksana, maka pada ayat di atas, kata yang digunakan adalah kairos. Dengan perkataan lain, firman Tuhan tersebut mengingatkan kita agar menyambut hari lepas hari sebagai kesempatan dari Allah, bukan sekedar susunan waktu yang berlalu tanpa makna.
Barangkali kita masih ingat bagaimana nabi besar, Musa, berdoa. Setelah dia menyadari usianya yang semakin lanjut, dia berdoa demikian: “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun...” (Mzm. 90:10) Dalam usia yang sedemikian, Alkitab mencatat bahwa telah banyak yang dilakukan Musa bagi Allah. Atau lebih tepatnya, sudah banyak yang dikerjakan Allah melalui Musa, khususnya dalam memimpin umat keluar dari perbudakan di Mesir. Namun demikian, dia tidak berhenti di
Dari doa yang sangat berkesan di atas, kita diajar melihat pentingnya hati yang bijaksana. Selanjutnya, kita diajar bahwa orang yang bijaksana adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menghitung hari harinya. Dengan perkataan lain, orang yang mampu menilai dan menghargai kesempatan yang dimilikinya. Sangat disayangkan jika ada orang yang hanya pintar menghitung uang di bank atau hal-hal lain yang bersifat materi, namun gagal menghitung hari-harinya.
Time is Life
Untuk mengatakan betapa berharganya waktu, kita sering mendengar kalimat: “Time is money.” Tapi sesungguhnya, waktu jauh lebih berharga dari pada uang. Alkitab menegaskan bahwa waktu adalah hidup.
Di hadapan kita masih terbentang hari-hari yang panjang. Kalender tahun 2007 masih cukup tebal. Menjadi pertanyaan adalah, bagaimanakah kita menyikapi hari demi hari yang akan kita jalani tersebut? “Pergunakanlah waktu yang ada,” demikian firman Tuhan. Lebih tepatnya, dalam bahasa Yunani, perintah tersebut adalah “belilah kesempatan yang ada.”
Waktu dan kesempatan itu sungguh sangat mahal. Dia bersifat linier, berjalan maju terus. Sekali berlalu, dia tidak akan pernah kembali lagi. Itulah sebabnya, kita diminta untuk membeli kesempatan tersebut. Dengan perkataan lain, menukarkannya dengan hal-hal yang berharga. Sebagai contoh, kita tidak dapat kembali ke pada tahun 2006. Itu sudah berlalu. Apa yang tinggal sebagai pengganti tahun tersebut? Jawabnya, ada pada kita masing-masing. Maksudnya, apa yang kita kerjakan selama 365 hari di tahun 2006. Karya apa yang telah berhasil kita capai, baik untuk pribadi, keluarga, pekerjaan dan pelayanan kita?
Saya ingin mengakhiri kolom ini dengan sebuah puisi yang telah mengilhami banyak orang, termasuk diri saya sejak puluhan tahun yang lalu. Puisi di bawah menyatakan dengan sangat jelas betapa pentingnya waktu itu. Mari kita simak, kata demi kata.
Today
This is the beginning of a new day
God has given me this day
to use as I will
I can waste it, or grow in its light
And be of service for others
What I do with this day is very important
Because I have exchanged it
With a day of my life
When tomorrow comes,
Today will be gone forever
I hope, I will not regret
The price I paid for it.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar